Fenomena persepsi pejabat publik di era media sosial
sering dianggap tidak penting ketika membangun komunikasi di media sosial tidak menggunakan data tapi hanya menggunakan ingatan dan pengalaman tidak menyenangkan.
10/23/20262 min read


Jangan Sampai Publik Sudah Berubah, tetapi Kita Masih Terjebak pada Persepsi Lama
Oleh Ican Siregar
Kesalahan komunikasi bisa membuat reputasi seseorang menurun. Apalagi jika terjadi pada figur publik. Satu kampanye yang keliru bisa mengundang kritik dan meninggalkan kesan negatif di masyarakat.
Namun, apakah kesalahan itu akan terus menentukan reputasinya?
Belum tentu.
Saya menemukan sebuah situasi menarik. Seorang pejabat publik pernah mengalami masalah reputasi akibat kesalahan kampanye. Setahun kemudian, sudah muncul berbagai persepsi positif terhadap dirinya.
Menariknya, tim yang menangani komunikasinya masih menganggap reputasi tersebut berada dalam kondisi buruk.
Padahal, kondisi masyarakat mungkin sudah tidak sama seperti setahun lalu.
Persepsi Bisa Berubah, tetapi Penilaian Lama Bisa Bertahan
Dalam psikologi, ada konsep belief perseverance, yaitu kecenderungan seseorang mempertahankan keyakinan awal meskipun sudah menerima informasi baru.
Konsep ini pernah diteliti oleh Ross, Lepper, dan Hubbard pada 1975.
Dalam konteks reputasi, tim komunikasi bisa saja masih mengingat kuatnya kritik pada masa lalu. Pengalaman itu kemudian menjadi dasar untuk menilai kondisi saat ini.
Akibatnya, keputusan komunikasi terus berfokus pada upaya memperbaiki kesalahan lama.
Padahal, masyarakat mungkin sudah mulai menilai hal lain, seperti kinerja, pelayanan, kebijakan, atau perubahan sikap figur tersebut.
Di sinilah pentingnya membedakan persepsi internal dengan persepsi publik.
Masyarakat Tidak Selalu Menilai Kita dengan Cara yang Sama
Ada konsep lain yang disebut impression updating, yaitu proses seseorang memperbarui penilaiannya setelah menerima informasi baru.
Penelitian Mende-Siedlecki, Cai, dan Todorov pada 2013 membahas bagaimana informasi baru dapat memengaruhi kesan terhadap seseorang.
Artinya, reputasi bukan sesuatu yang selalu menetap.
Orang yang dahulu mendapat kritik masih memiliki kesempatan membangun kepercayaan melalui tindakan nyata dan pengalaman positif yang konsisten.
Namun, bukan berarti satu tindakan baik langsung menghapus kesalahan sebelumnya.
Informasi negatif, terutama yang berkaitan dengan integritas, bisa meninggalkan kesan yang kuat. Fenomena ini berkaitan dengan negativity bias, yaitu kecenderungan informasi negatif memiliki pengaruh lebih besar dalam penilaian tertentu.
Karena itu, perubahan reputasi membutuhkan waktu dan bukti.
Jangan Menyusun Strategi Hanya Berdasarkan Ingatan
Menurut saya, salah satu kesalahan dalam mengelola reputasi adalah terlalu lama menggunakan masalah masa lalu sebagai dasar strategi hari ini.
Tim bisa menjadi terlalu berhati-hati, defensif, bahkan kehilangan kesempatan untuk mengomunikasikan perkembangan positif.
Sebaliknya, merasa reputasi sudah baik hanya karena muncul beberapa komentar positif juga tidak tepat.
Yang dibutuhkan adalah pemahaman tentang kondisi masyarakat saat ini.
Mulailah dengan melihat kembali percakapan publik, mendengarkan kritik yang masih relevan, memahami pengalaman masyarakat, dan melakukan survei jika diperlukan.
Dari sana, kita bisa mengetahui apakah persoalan lama masih menjadi perhatian utama atau sudah muncul penilaian baru.
Strategi komunikasi seharusnya dibangun berdasarkan kondisi yang nyata, bukan hanya kekhawatiran internal.
Reputasi Adalah Proses yang Terus Berjalan
Dalam personal branding maupun komunikasi figur publik, kita perlu memahami bahwa reputasi terbentuk melalui pengalaman yang berulang.
Kesalahan masa lalu tetap perlu diakui dan menjadi bahan evaluasi. Namun, perkembangan positif juga perlu dilihat secara objektif.
Bagi saya, mengelola reputasi bukan tentang membuat masyarakat melupakan kesalahan. Melainkan memastikan bahwa tindakan dan komunikasi hari ini benar-benar mencerminkan perkembangan yang terjadi.
Sebab, bisa saja masyarakat sudah mulai melihat perubahan, tetapi kita sendiri masih sibuk mempertahankan gambaran lama.
Jangan sampai strategi komunikasi hari ini masih dikendalikan oleh persepsi kemarin.
Ican Siregar — Brand Strategist
Referensi teori:
Ross, L., Lepper, M. R., & Hubbard, M. (1975). Perseverance in Self-Perception and Social Perception: Biased Attributional Processes in the Debriefing Paradigm. Journal of Personality and Social Psychology.
Mende-Siedlecki, P., Cai, Y., & Todorov, A. (2013). The Neural Dynamics of Updating Person Impressions. Social Cognitive and Affective Neuroscience.
Mende-Siedlecki, P., Baron, S. G., & Todorov, A. (2013). Diagnostic Value Underlies Asymmetric Updating of Impressions in the Morality and Ability Domains. Journal of Neuroscience.